Rasyid Ridha tentang Imam Mahdi

Pendapat Syeikh M. Rasyid Ridha tentang Imam Mahdi

Rasyid RidhaHadits-hadits tentang akan datangnya Imam Mahdi menjelang akhir zaman telah ditanggapi beragam oleh para ulama. Ada yang menganggapnya benar dan harus dipercaya, tapi ada yang tidak percaya dengan keotentikan hadits-hadits itu. Salah satu ulama besar yang tidak mempercayai kebenaran khabar tentang akan datangnya Imam Mahdi itu adalah Syekh Muhammad Rasyid Ridha, ulama besar reformis asal Mesir, murid utama dari Syekh Muhammad Abduh.

Ulama yang menjadi rujukan utama kalangan modernis-reformis di Indonesia ini berkata:  

“Adapun pertentangan di antara hadits-hadits Al-Mahdi sangat kuat dan jelas, mengkompromikan riwayat-riwayat tersebut sangat sulit, orang-orang yang mengingkarinya sangat banyak, dan syubhatnya sangat jelas. Karena itu Imam Syaikhani (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkan sama sekali hadits Al-Mahdi ini dalam kitab Shahih beliau, padahal kerusakan dan fitnah banyak tersebar di kalangan bangsa-bangsa yang beragama Islam.” [Tafsir Al-Manar 9: 499]
BACA SELENGKAPNYA “Rasyid Ridha tentang Imam Mahdi”

Shalat Gerhana

SHALAT GERHANA (Bagian 1)

Pengertian Shalat Khusuf dan Kusuf

Oleh: Al-Ustadz Said Thalib al-Hamdani (1903-1983 M)

Kata khusuf dan kusuf dipergunakan untuk istilah gerhana bulan dan gerhana matahari seperti yang terdapat dalam beberapa hadits Rasulullah saw.

Dalam At-Tanzil dikatakan bahwa istilah khusuf itu hanya dipergunakan untuk bulan, sedang kusuf untuk gerhana matahari.

Ibnu Daqiqil ‘Ied berkata, “Orang-orang berselisih faham mengenai kata kusuf dan khusuf. Ada yang mengatakan kalau khusuf itu untuk gerhana matahari sedangkan kusuf itu untuk gerhana bulan. Tetapi ini tidak benar, sebab Allah sendiri telah menggunakan kata khusuf untuk menyebut gerhana bulan. Adapula yang menyebutkan sebaliknya. Lainnya mengatakan bahwa kedua-duanya itu sama artinya.

Perbedaan istilah ini dibuktikan dengan lafad yang terdapat untuk dua macam gerhana. Ada yang mengatakan kalau kusuf berarti lenyapnya seluruh cahaya, sedang khusuf artinya berubah warnanya.[1]

Asy-Syaukani berkata: Kusuf menurut lughah adalah berubah menjadi hitam. Dari kata kusuf timbul istilah berubah muka dan matahari menghilang cahayanya.

Menurut Al-Hafid: Kusuf sering dipergunakan untuk menyebut gerhana matahari, sedang khusuf sering dipergunakan untuk gerhana bulan. Ada pula yang menyebutkan kalau kusuf itu untuk permulaan gerhana, sedang khusuf untuk akhir gerhana. Ada juga yang mengatakan kalau kusuf untuk gerhana penuh, sedang khusuf untuk gerhana yang tidak penuh.[2]

Urwah berkata: Janganlah kamu mengatakan “Kasafatisy Syamsu” tetapi katakanlah “Khasafatisy Syamsu”. Hadits ini mauquf tetapi shahih, diriwayatkan oleh Sa’id bin Marwan dan oleh Muslim dari Yahya bin Yahya.

[1] Syarah Umdatul Ahkam, hal. 135.

[2] Nailul Authar, IV: 14.

SUMBER: Buku “SHALAT-SHALAT SUNNAH” (HSA Al-Hamdani)

BACA JUGA:
Pendapat Syeikh Muhammad Rasyid Ridha tentang Gerhana

Rasyid Ridha tentang Gerhana

Pendapat Syeikh Rasyid Ridha tentang Gerhana

Terjadinya gerhana adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah dan sebagai bukti keagungan-Nya. Maka, sudah sepatutnya peristiwa itu mendorong kita untuk selalu ingat dan taat kepada Allah. Bukankah shalat yang lima waktu juga ditetapkan waktunya berdasarkan peredaran matahari?

Gerhana bukan merupkan bencana atau penyebab malapetaka seperti anggapan kebanyakan orang. Tapi, gerhana adalah termasuk peristiwa alam yang rutin, sebagaimana firman Allah:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Matahari dan bulan itu beredar menurut aturan.” (ar-Rahman: 5)

Karena itu, terjadinya gerhana dapat diketahui oleh ahli-ahli falak yang dapat juga ditentukan sebelum terjadinya, dan dapat pula dipastikan dengan perhitungan yang cermat, sampai kepada menit dan detiknya. Ahli falak dapat menetapkan penyesuaiannya setiap tahun, apa yang terjadi setiap tahun, lama gerhana, letaknya, dan daerah-daerah yang dapat melihat gerhana. Mereka tidak akan keliru dalam menghitung karena mereka berdasar kepada hisab yang telah ditentukan oleh Allah, dan ia tidak akan keliru. Ahli-ahli falak juga dapat menerangkan apa yang terjadi setelah lewat waktunya beberapa ratus atau beberapa ribu tahun.

(Dikutip dari buku “SHALAT-SHALAT SUNNAT“, karya Al-Ustadz Said Thalib al-Hamdani, hal. 120-121)

Universitas Al-Irsyad di Solo

Universitas Al-Irsjad

Oleh: Abdullah Munif

Dari: Majalah GELORA AL-IRSJAD, No. 7, Syawwal 1385 H (Februari 1966), Edisi Idul Fitri
Diterbitkan oleh: Sekpen Pemuda & Peladjar Al-Irsjad Bogor

Pergerakan Al-Irsjad didirikan dan dipelopori perdjuangannja oleh Alm. Pendekar Islam Al-Muslih Al-Imam Ahmad Assoorkaty Alanshary pada tahun 1914 di Indonesia.

Garis-garis perdjuangannja didasarkan atas prinsip-prinsip Islam melalui sumbernja jang pertama: Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, dan tidak sedikit telah memberikan sumbangan idiel dan potensiel kepada Revolusi Indonesia di mana pertumbuhannja, terutama di bidang mental spiritual.

Al-Irsjad adalah Pergerakan reformasi dan modernisasi Islam jang revolusioner di Indonesia.

Dalam bidang pendidikan/pengadjaran sudah banjak usaha dan hasilnya jang dapat diketjap oleh masjarakat, dan sudah banjak menelorkan kader-kader jang militan, jang sebagian mendjadi tokoh-tokoh di Indonesia maupun du luar negeri.

Djadi dapatlah kita fahami pentingnja fungsi pendidikan/pengadjaran; sebab ia merupakan salah satu media jang ditempuh Al-Irsjad untuk mentjapai tjita-tjita dan tudjuan-nja. Dimana pendidikan/pengadjaran jang diselenggarakannja bernafaskan atau sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
BACA SELENGKAPNYA “Universitas Al-Irsyad di Solo”

Derajat Orang-orang yang Berpuasa

Derajat Orang-orang yang Berpuasa

hasbi1Oleh: Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (1904-1975)

(Murid Syekh Ahmad Surkati dan Rektor Universitas Al-Irsyad, Solo, 1960-an)

Orang yang berpuasa ada tiga tingkatan derajatnya:

  1. Meninggalkan makan minum dan persetubuhan
  2. Meninggalkan makan dan syahwat karena Allah dengan mengharapkan ampunan dan surga atau terhindar dari neraka.
  3. Meninggalkan makan dan minum serta syahwat, bahkan menahan hati dari segala yang lain dari Allah, karena semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya saja.

Golongan yang kedua dinamakan ahlul khusus dan golongan yang ketiga dinamakan ahlul ma’rifah.

Ahlul khusus memelihara lidah dari berdusta, sesudah menahan diri dari makan, minum dan jimak.

BACA SELENGKAPNYA “Derajat Orang-orang yang Berpuasa”

Puasa dan Al-Qur’an

Puasa dan Al-Qur’an

hasbi1Oleh: Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (1904-1975)

(Murid Syekh Ahmad Surkati dan Rektor Universitas Al-Irsyad, Solo)

Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaibi berkata, “Allah swt. telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan menurunkan Al-Qur’an di bulan itu. Maka dari itu, Allah pun mengkhususkan bulan itu dengan sebuah ibadat yang sangat istimewa, yaitu puasa. Puasa itu suatu senjata yang menyingkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita (manusia) dari memandang Nur Ilahi Yang Mahakudus.”

Allah memfardhukan puasa Ramadhan atas kita (umat Islam) dan menjadikan puasa itu sebagai salah satu rukun asasi agama Islam agar Al-Qur’an tetap diingat dan dimuliakan oleh umat Islam. Sebab, Al-Qur’an adalah nikmat yang tiada taranya yang Allah limpahkan kepada kita di bulan puasa itu.

Ibadah puasa yang difardhukan di bulan Ramadhan ini merupakan manifestasi rasa syukur kita kepada Allah ayas hidayah-Nya (Al-Qur’an) yang Dia limpahkan itu.

BACA SELENGKAPNYA “Puasa dan Al-Qur’an”

Sejarah dan Tujuan Puasa

SEJARAH DAN TUJUAN PUASA

Oleh: Ustadz Umar Hubeis

Pertanyaan:

“Apa arti puasa dan bagaimanakah sejarah dan tujuannya?”

Jawab:

Allah swt. Berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat yang sebelum kamu, agar kamu sama bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

Dijelaskan pada ayat tersebut tujuan dari kewajiban ibadah puasa, yaitu “agar bertakwa”.
BACA SELENGKAPNYA “Sejarah dan Tujuan Puasa”

Revolusi Al-Irsyad di Indonesia

GERAKAN AL-IRSJAD DI INDONESIA

Oleh: Al-Ustadz Umar Nadji  (1900-1974)

(murid utama Syekh Ahmad Surkati, asal Bogor)

Sumber:Menjambut Seperempat Abad Pemuda Al-Irsjad 1964”, terbitan Pemuda Al-Irsjad Pekalongan, September 1964.

Kami diminta agar ikut menulis suatu karangan singkat mengenai Revolusi Al-Irsjad jang telah dilupkan oleh warganja sendiri.

Permintaan itu kami terima dengan gembira dan penghargaan tinggi oleh karena memperingati ulang tahun satu Gerakan jang besar djasanja tetapi tidak mendapatkan penghargaan sewadjarnja.

Walaupun waktu dan ruang jang diberikan kepada kami sempit, namun hasrat kami besar untuk memenuhi harapan pemuda (maksudnya: Pemuda Al-Irsjad) dengan maksudnja jang mulia itu.

Kota Pekalongan adalah Kota Perdjuangan jang utama, maka tidak heran kalau Pemuda-pemudanja mengangkat Pandji-pandji Perjuangan Pembangunan semesta dalam alam Demokrasi Terpimpin. Kami pertjaja mereka dapat mensukseskan Tjita-tjita, Prinsip, dan Tudjuan Al-Irsjad.
BACA SELENGKAPNYA “Revolusi Al-Irsyad di Indonesia”

Pembaharu Islam di Indonesia

SYEKH AHMAD SURKATI (1874-1943): Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia*

Oleh: Katamsi Ginano**

Syekh Ahmad Surkati asli Menengok kembali Indonesia di akhir abad 19 hingga awal abad 20, kita menyaksikan hiruk pikuk pertentangan ideologi, praktek, dan politik beragama. Banyak literatur mencatat, hingga periode 1930-an, di tengah gejolak kolonialisme Belanda, kegairahan pencarian jati diri kaum muslimin melahirkan banyak tokoh dan organisasi yang mengusung panji Islam.

Nama-nama seperti Haji Zamzam (pendiri Persatuan Islam), Kiai Hasjim Asj’ari (Nahdlatul Ulama), Kiai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), Ahmad Surkati (Al-Irsyad) mengedepan sebagai ulama, cendekiawan, dan intelektual Islam. Mereka bahkan tak hanya membaktikan ide-ide dan ajarannya terhadap pengembangan agama yang dibawa Rasulullah Muhammad saw. ini, tapi juga ikut menyuburkan semangat nasionalisme yang mengantarkan Indonesia merdeka di tahun 1945.
BACA SELENGKAPNYA “Pembaharu Islam di Indonesia”