Rasyid Ridha & Hadits Israiliyat

Syeikh Rasyid Ridha, Penolak Keras Hadits Israiliyat

Syeikh Muhammad Rasyid Ridha adalah ulama modernis dan salafiyah asal Mesir, murid utama Syekh Muhammad Abduh. Ia dikenal sebagai ahli hadits besar dan mufasir Al-Qur’an. Ia banyak menggunakan hadits Nabi saw. dalam menafsirkan Al-Qur’an (Tafsir Al-Manar). Namun, ia dikenal selektif dalam memakai hadits. Tidak semua hadits yang ia peroleh digunakannya dalam menafsirkan Al-Qur’an dan menerangkan ajaran-ajaran Islam.

Syekh M. Rasyid Ridha
Syekh M. Rasyid Ridha

Menurut Rasyid Ridha, riwayat-riwayat yang berasal dari Rasulullah saw., para sahabat dan para ulama tabi’in di bidang tafsir memang diperlukan. Riwayat-riwayat yang berasal dari Rasulullah saw. dan shahih, tidak dapat dikalahkan oleh riwayat-riwayat lain. Peringkat berikutnya adalah riwayat-riwayat dari para ulama sahabat yang berkenaan dengan pengertian-pengertian bahasa atau amaliah yang ada pada masa mereka. Namun, riwayat-riwayat yang shahih dari mereka itu tidak banyak jumlahnya.

Kebanyakan tafsir bil ma’tsur (tafsir dengan riwayat) bersumber dari para periwayat yang memperolehnya dari kalangan zindik Yahudi dan Persia atau ahli kitab yang telah memeluk Islam.1) Hal itu terlihat dengan jelas pada cerita-cerita para rasul bersama kaum mereka, kitab-kitab suci dan mukjizat-mukjizat mereka, atau cerita-cerita yang lain, seperti cerita tentang para penghuni goa (ashabul kahfi), negeri Iram Dzatul Imad, Suhir Babil, Awj bin Unuq, dan peristiwa-peristiwa misterius yang menjadi tanda-tanda akan tibanya hari kiamat. Semuanya itu adalah dongeng dan khurafat yang dipercayai begitu saja oleh para periwayat dan sementara sahabat.2)


Menurut Rasyid Ridha, sudah terbukti dalam sejarah bahwa sementara sahabat telah meriwayatkan berbagai macam hadits hanya dari para sahabat yang lain dan tidak langsung dari Rasulullah saw. Selain itu, mereka juga telah meriwayatkannya dari tabiin, bahkan juga dari Ka’ab al-Ahbar dan tokoh-tokoh lain dari kalangan Ahli Kitab yang telah memeluk Islam. Meskipun menurut kaidah yang dipegangi kalangan Ahli Sunnah, semua sahabat adalah adil, kaidah tersebut bukanlah kaidah umum, melainkan kaidah aghlabiyyah (pada umumnya) saja. Sebab, pada masa Rasulullah saw. sendiri terdapat orang-orang munafik.3)

Selain itu, realitas juga menunjukkan bahwa kebanyakan hadits diriwayatkan dengan makna. Ini dapat dibuktikan dengan adanya perbedaan lafaz hadits yang dipakai oleh para periwayat dalam menyampaikan suatu hadits, kendati hadits tersebut sebenarnya cukup singkat. Dengan demikian, setiap orang pada umumnya meriwayatkan hadits menurut pemahamannya masing-masing. Padahal, dalam memahami suatu hadits saja orang sering keliru, sebab hal itu termasuk hal-hal yang abstrak (umur ghaybiyyah).4)

Karena itu, kata Rasyid Ridha, setiap apa saja yang dapat diketahui, kecuali dengan riwayat dari Rasulullah saw., seperti yang berkenaan dengan informasi tentang hal-hal yang gaib, baik yang telah terjadi pada masa lalu maupun yang akan terjadi pada masa yang akan datang, tidak dapat diterima, kecuali jika riwayat tersebut benar-benar berupa hadits shahih yang marfu’ (sampai) kepada beliau.5)

Namun demikian, ternyata tidak semua hadits shahih yang telah disepakati oleh mayoritas ahli hadits dapat diterima dan menjadi rujukan bagi Rasyid Ridha, termauk hadits-hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Ia memang menolak tudingan adanya hadits-hadits maudhu’ (palsu) dalam Shahih al-Bukhari secara riwayat (sanad) atau yang biasa disebut ilmu Musthalah al-Hadits. Akan tetapi, di dalam kitab hadits tersebut ada beberapa hadits yang bila dilihat dari segi matan-nya perlu dipertanyakan kebenarannya, karena ada tanda kepalsuan. Misalnya hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. pernah terkena sihir. Hadits yang telah ditolak oleh Imam al-Jashshash dari kalangan mufassir klasik dan Muhammad Abduh dari kalangan mufassir modernis tersebut bertentangan dengan firman Allah:6)

وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَّسْحُورًا

 “Dan orang-orang zalim itu berkata, ‘Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.’” (al-Furqan: 8)

Rasyid Ridha juga menyebutkan, di dalam kedua kitab hadits tersebut (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim), terdapat riwayat-riwayat Israiliyyat. Misalnya hadits tentang terbitnya mahatahari di sebelah Barat yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah ra. Dalam hadits yang juga diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah itu, Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنَ الْمَغْرِبِ، فَإِذَا طَلَعَتْ، فَرَآهَا النَّـاسُ؛ آمَنُوا أَجْمَعُوْنَ، فَذَلِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا.

Hari kiamat tidak akan terjadi sampai matahari terbit dari sebelah barat. Apabila matahari itu telah terbit (dari barat) dan orang-orang yang melihatnya, beriman semuanya. Pada waktu itu keimanan seseorang tidak ada manfaatnya lagi untuk dirinya, yang sebelumnya tidak pernah beriman atau tidak pernah mengusahakan kebaikan pada masa keimanannya.”

Menurut Rasyid Ridha, Abu Hurairah tidak pernah menjelaskan di dalam riwayat tersebut bahwa ia telah mendengar langsung apa yang telah diriwayatkannya itu dari Rasulullah saw. karena itu, perlu dicurigai bahwa sebagian dari riwayat-riwayat tersebut bersumber dari tokoh Isra’iliyyat, Ka’ab al-Ahbar dan orang-orang yang sepertinya.

Hadits lain yang tidak dapat diterima oleh Rasyid Ridha adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah:

 “Rasulullah saw.memegang tanganku, kemudian bersabda, ‘Allah Azza wa Jalla (Mahamulia dan Mahaagung) telah menciptakan tanah pada hari Sabtu, menciptakan gunung pada hari Ahad, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan yang tidak disukai pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menciptakan binatang-binatang melata pada hari Kamis, menciptakan Adam pada hari Jumat, setelah ashar, dan menciptakan makhluk-Nya yang terakhir pada saat terakhir dari saat-saat hari Jumat, antara setelah ashar hingga malam.’”

Menurut Rasyid Ridha, hadis tersebut tidak dapat diterima, karena matan (redaksi)-nya bertentangan dengan nash Al-Qur’an. Mengenai sanad-nya, Anda jangan terkicuh lantaran yang meriwayatkannya adalah Muslim. Sebab, ia meriwayatkan hadis itu sebagaimana juga yang lainnya telah meriwayatkannya dari Hajjaj dari Muhammad al-A’war al-Mashish dari Ibnu Jurayj, sedangkan orang itu telah berubah akalnya (pikun) pada akhir usianya. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Tahdzib al-Tahdzib dan kitab-kitab lainnya bahwa ia sudah terbukti telah meriwayatkan hadis tersebut setelah berubah pikirannya.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat al-A’raf (7) ayat 54 mengatakan bahwa di dalam hadits itu disebutkan tujuh hari penuh untuk penciptaan, sedangkan Allah hanya menyatakan hanya selama enam hari.7) Karena itu, al-Bukhari dan sejumlah pakar hadis telah memperbincangkan hadis itu dan menyatakannya berasal dari riwayat Abu Hurairah dari Ka’b al-Ahbar, bukan hadis marfu’ (berasal dari Rasulullah saw.).8)

Menurut Fahd al-Rumi, Rasyid Ridha adalah tokoh pembaruan yang paling tegas dalam menolak Israiliyat dan paling sengit dalam mengecam para tokohnya, seperti Ka’ab al-Ahbar dan Wahab ibn Munabbih, padahal mereka dipandang tsiqah (terpercaya) oleh sementara pakar tafsir dan pakar hadis. Terhadap Ka’ab al-Ahbar, Ridha antara lain mengatakan bahwa orang itu telah menipu kaum Muslim untuk menghancurkan agama dan sunnah Rasul mereka, dan orang-orang juga terkicuh, karena penampilannya yang menampakkan ketakwaan.9)

Di samping itu, Ridha juga pernah menyatakan bahwa Ka’b al-Ahbar adalah seorang pembohong dan keimanannya tidak dapat dipercayai.10) Terhadap Wahab ibn Munabbih, Ridha mengatakan bahwa riwayat dari Wahab yang menyebutkan bahwa Nabi Musa telah mengetok-ngetokkan tongkatnya ke atas batu yang paling dekat dengan mereka, lalu mengalir beberapa mata air dari batu itu adalah khurafat (dongeng yang tidak masuk akal) bikinan Wahab dan tidak ada dasarnya, baik di kalangan Yahudi maupun di kalangan Muslim, namun sementara orang masih menganggapnya seorang yang tsiqah dalam menyampaikan riwayat.11) Dalam pernyataannya yang lain, Ridha mengatakan bahwa Ka’b al-Ahbar dan Wahab ibn Munabbih adalah dua tokoh Israiliyat yang paling jahat dan paling sengit dalam mengacaukan dan menipu kaum Muslim.12)

Ketegasan Rasyid Ridha dalam menolak Israiliyat telah pula membawanya kepada sikap kritis terhadap hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sementara sahabat, khususnya Abu Hurairah yang telah disinyalirnya banyak meriwayatkan cerita-cerita Israiliyat tersebut. Ridha mengakui bahwa Abu Hurairah adalah seorang sahabat yang paling banyak hafalannya dan jujur dalam meriwayatkan hadits, namun karena ia baru memeluk Islam pada tahun ketujuh hijriah dan lamanya bergaul dengan Rasulullah hanya sekitar tiga tahun, tokoh pembaruan itu tidak dapat menerima begitu saja hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi tersebut. Sebab, menurut hasil penelitiannya, kebanyakan dari hadits-hadits Abu Hurairah itu tidak didengarnya langsung dari Rasulullah saw., tetapi dari para sahabat dan tabiin.

Kalau semua sahabat adalah adil dalam meriwayatkan hadits sebagaimana yang dikatakan mayoritas pakar hadis, tabiin tidaklah demikian. Apalagi jika yang meriwayatkan itu adalah tokoh-tokoh Israiliyat yang juga hidup pada masa mereka.13) *

* Diambil dari buku “RASYID RIDHA, Konsep Teologi Rasional dalam Tafsir al-Manar”, oleh: A. Athaillah, hal. 53-58, penerbit: Erlangga.

1) Rasyid Ridha; Tafsir Al-Manar, jilid 1, hal. 7-8.
2) Ibid, hal. 8.
3) Ibid, jld IX, hal. 465.
4) Ibid, hal. 467.
5) Ibid, hal. 10.
6) Rasyid Ridha, Majalah Al-Manar, jld. 27, hal. 783.
7) Pada ayat itu ditegaskan: “Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy.”
8) Rasyid Ridha, op. cit. jld. VIII, hal. 449.
9) Rasyid Ridha, op. cit, jld. IX, hal. 459.
10) Rasyid Ridha, Majalah Al-Manar, Jilid XXIX, juz ke-9, hal. 697.
11) Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Jilid IV, hal. 343.
12) Rasyid Ridha, Majalah a-Manar, Jilid XXVII, juz ke-10, hal. 783.
13) Ibid, Jilid XXIX, hal. 43.

SEBARKAN ARTIKEL INI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>